Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Social Services

0
33

MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA DALAM BINGKAI SOCIAL SERVICES

Penulis:
Ahmad Junaidi, S.Pd.I
Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo  (UMSIDA)

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merupakan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Jumlah anggota kedua ormas ini berdasarkan data survey lvara Research Center (IRC) yang dilansir dari https://www.kompasiana.com/agungsugiarto6830/5e2c6a5b097f36188e6d0c62/muhammadiyah-nu-dan-perkembangannya, menunjukkan bahwa sebanyak 50,3% Penduduk Muslim Indonesia mengklaim berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama, 14,9% mengaku berafiliasi kepada Muhammadiyah, selebihnya menyebar ke dalam ormas ormas Islam yang lain, dan ada pula yang mengaku tak berafiliasi kepada ormas manapun. Dalam bidang keanggotaan sebanyak 36,1% mengklaim sebagai anggota Nahdlatul Ulama, 6,3% mengaku sebagai anggota Muhammadiyah dan 54,6% sisanya mengaku bukan anggota ormas manapun

Keberadaan dua ormas Islam besar ini memiliki makna historis dan sosial essensial dalam proses kontinuitas gelombang Islamisasi yang terus berlangsung. Tak berlebihan kiranya, bahwa dua organisasi ini adalah pondasi penyanggah moderasi Islam di tengah ragam gerakan gerakan Islam yang menampilkan wajah radikal. Nahdlatul Ulama dalam perjalanan panjang penyebaran Islam memiliki image sebagai pelaku dakwah kultural. Muhammadiyah pun juga melakukan hal yang sama, yang juga disebut sebagai gerakan dakwah kultural, dakwah yang lebih ramah terhadap tradisi dan budaya lokal (Syam, 2005)

Dalam literatur lain disebutkan, Muhammadiyah lebih selektif terhadap tradisi dan ekpresi lokal sehingga tidak begitu saja menerima bermacam ekspresi tersebut. Pada situasi tertentu Muhammadiyah menolaknya karena dianggap sarat dengan muatan prilaku kemungkaran sehingga perlu ditolak, dan dalam situasi yang lain, melontarkan pandangan bahwa hal tersebut merupakan domain duniawi, sehingga terdapat kebebasan berekspresi dan berkreasi, kesenian tidak terlalu dikorelasikan dengan prinsip atau pandangan normatif syariah yang purifikatif (Syam, 2005)

Organisasi yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912 ini memegang peran penting bukan semata sebagai pemrakarsa gerakan purifikasi Islam dari bid’ah dan khurafat, tetapi juga agen perubahan sosial (social agen of change), sekaligus menjadi kekuatan dan modal politik Islam di Indonesia. Dalam konteks perkembangan masyarakat muslim Indonesia, Muhammadiyah merupakan Ormas yang berperan significan dalam gerakan Pendidikan Islam, terbukti hanya dalam perkiraan satu dekade lebih pasca didirikan, Muhammadiyah sukses membangun 8 HIS Muhammadiyah, 1 sekolah guru, 32 Sekolah Dasar 5 tahun, 1 Sekolah Dasar berbahasa belanda (Schakeschool) dan 14 buah Madrasah dengan total murid mencapai 4000 dan 119 guru. Yang menarik dari pendidikan tersebut adalah model dan substansi pendidikan yang dikembangkan.

Muhammadiyah mengusung pendidikan / Sekolah Islam kombinatif yaitu model Pendidikan Belanda dan Islam yang populer dengan sebutan HIS met de Qur’an (Subhan, 2012). Model tersebut disinyalir sebagai ekpserimen Muhammadiyah dalam domain pendidikan yang menjadi salah satu maistream gerakan modernisasi Pendidikan Islam di Indoensia sekaligus mejadi kontribusi penting mereka dalam memformulasikan desain dan konsep pendidikan Islam modern.

Nurcholish Madjid menyebutkan bahwa Muhammadiyah merupakan sentra pendidikan di seantero Indonesia karena memiliki banyak institusi pendidikan dengan beragam jenjang dan program yang diselenggarakan. Diantara program  program yang dikembangkan Muhammadiyah adalah Pendidikan Keguruan, Agama, dan Umum, Akademi Keperawatan, Kebidanan, Analis Kesehatan, Statistika, Sekolah Keperawatan dan sebagainya. Program program ini  menjadi kegiatan unggulan yang prestise dan hampir dipastikan menjadi agenda wajib bagi setiap pimpinan persyarikatan di wilayah wilayah di samping menyelenggarakan kegiatan dakwah dan pengajian

Dalam bidang karya amal usaha menurutnya, Muhammadiyah merupakan organisasi modern terbesar, tidak hanya di Indonesia tetapi di Dunia Islam. James L. Peacok, Pakar antropolog USA mendaulat Muhammadiyah sebagai ormas Islam terkuat di Asia Tenggara, bahkan menurutnya Gerakan perempuan Muhammadiyah (Aisyiyah) adalah yang terbesar di Dunia (Nashir, 2010)

Sementara Nahdlatul Ulama sebagai kelompok tradisional penganut Sunni terbesar di Indonesia mempunyai eksklusifitas yang membedakannya dari ormas ormas Islam yang lain, ia mempunyai basis yang solid di pondok pesantren dan pedesaan, relasi distingtif murid (Santri) dan guru (Kiai), akomodasi yang kuat atas ekspresi Islam lokal asal tidak kontradiktif dengan prinsip prinsip fundamental agama, dan dikenal tidak menuntut Arabisme ke dalam kehidupan mereka sehari hari (Wahab, 2019)

Organisasi yang didirikan pada tanggal 31 Januari tahun 1926 di Kota Pahlawan Surabaya oleh komunitas Ulama pesantren ini juga mempunyai karakteristik paham dan praktik keagamaan yang melandasi segenap perilaku dan ruh gerakannya. Ia menjadikan Alqur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sebagai landasan paham kegamaan, dan keterikatannya kepada salah satu madzhab yang ada merupakan individualitas atau ciri khas sebagai salah satu organisasi Islam tradisional di Indonesia (Ismail, 2020)

Diantara kiprah Nahdlatul Ulama selain dalam bidang keagamaan adalah gerakan perekonomian. Pada tahun 1938 – 1939, Nahdlatul Ulama menggagas gerakan perekonomian yang dikenal dengan Gerakan Mabadi Khairo Ummah atau Moment – actie yang dilandasi spirit tolong menolong (muawanah) dan ditopang dengan peningkatan pendidikan moral yang tertetumpu pada trilogi prinsipil yaitu jujur, dapat dipercaya serta tolong  menolong. Gerakan perekonomian yang digagas oleh Nahdlatul Ulama tersebut dinilai tepat mengingat penganutnya kebanyakan berada di pedesaan dan kemiskinan banyak dijumpai di pedesaan

Dalam kegiatan sosial kemasyarakatan terutama dalam pendidikan, kontribusi Nahdlatul Ulama sangat nyata dengan dibentuknya pesantren pesantren pada etape awal berdirinya Nahdlatul Ulama dimana tujuannya adalah internalisasi nilai nilai agama dan membangun cakrawala keilmuan warga pribumi lebih lebih di masa kolonialisme Belanda. Untuk merespon perkembangan zaman, Nahdlatul Ulama juga membangun sistem pendidikan berstruktur formal diantaranya adalah Lembaga Pendidikan Maarif dan Pondok Pesantren yang dibina oleh Raabithah Maahid Al Islamiyah (RMI). Selanjutnya, pada tahun 1997, Nahdlatul Ulama juga menggagas Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) sebagai follow up dari kegiatan Muslimat dalam bidang kependudukan sejak tahun 1969 silam.

Untuk mengoptimalkan program tersebut, LKKNU mengadakan lokakarya tentang KB dan kependudukan di beberapa pondok pesantren, memberikan pelatihan KB sesuai prinsip prinsip Syariat Agama Islam, Trainging Guru, serta menyelenggarakan studi banding pengembangan KB ke manca Negara seperti Tunisia, Turki, Mesir, Philipina dan lain lain. Program sosial  kemasyarakatan Nahdlatul Ulama mendapati signifikansinya setelah muktamar Situbondo pada tahun 1984. tatkala itu, lahir kader kader milenial Nahdlatul Ulama seperti Abdurrahman Wahid, Fahmi Saifuddin dan Mustofa Bisri.

Semangat perubahan tersebut diwujudkan dalam bentuk produk baru seperti fiqh wanita yang dihadirkan untuk menjawab problematika gender yang marak berkembang di barat. Dan tak kalah penting adalah kontribusi pemikiran Gusdur tentang paham pluralis yang kemudian lahirlah gerakan gerakan Islam toleran dan Islam Liberal (Hambali, 2018)

Beberapa catatan tersebut di atas mengimplikasikan sebuah konklusi komprehensif bahwa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merupakan pilar gerakan  gerakan sosial-keagamaan di Indonesia dengan masing masing kekuatan dan keunikan yang dimiliki. Muhammadiyah dengan amal usaha, pendidikan dan kesehatan, sedangkan Nahdlatul Ulama dengan pesantren dan ulama ulamanya. Wallahu A’lamu bi al Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here