Sejarah

SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGANNYA

Sejak berdirinya, Masjid Al Falah mengedepankan nilai-nilai agama dan tidak membeda-bedakan antara golongan antara organisasi keislaman (NU, Muhammadiyah, Persis, dll.), selain itu juga mengembangkan dan mengakomodasi segala potensi masyarakat muslim sekitarnya umumnya Surabaya untuk bekerjasama dalam memakmurkannya, dan tak kalah penting munculnya Kursus Al Qu’ran adalah peran dari para pemuda dan mahasiswa yang umumnya menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, ITS, dan beberapa Universitas di Surabaya, yang kebanyakan berdomisili di sekitar Al Falah, antara lain di Wilayah Darmokali (sisi timur Masjid Al Falah). Para mahasiswa yang masih aktif tersebut menginginkan ada wadah yang mudah ditempuh dan dan dijangkau dari tempat tinggal mereka. Mereka sangat mafhum dengan hadist yang menjadi ikon pada saat itu sekaligus sebagai pengobar semangat serta didengung-dengungkan kepada anggota baru yang menjadi penerus Remaja Masjid dan sekaligus sebagai pendorong berdirinya Remaja Masjid di tempat lain di wilayah Surabaya.
Hadist tersebut adalah:
Artinya:

  1. “Tujuh golongan akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang Adil,
  2. Pemuda yang rajin beribadah kepada Allah,
  3. Pemuda yang hatinya terpaut dengan Masjid,
  4. Dua pemuda cinta karena Allah dan berpisah juga karena Allah,
  5. Laki-laki yang diajak perempuan cantik serta kaya untuk berbuat durhaka kepada Allah dia berkata “sesungguhnya aku takut kepada Allah”,
  6.  Laki-laki yang dalam kesendiriannya mengingat Allah dan meneteskan air mata,
  7. Laki-laki yang bersedekah dan merahasiakan sedekah itu sehingga ibarat tangan kiri bersedekah, tangan kanannya tidak mengetahui. (Muttafaq ‘alaihi).

Hadist di atas antara lain yang mengilhami hati pemuda Remaja Masjid saat itu sehingga mereka bersemangat mengabdikan diri tanpa pamrih.

Tahun 1399 H/1978 M berdirilah Remaja Masjid Al Falah menyertai pula bangkit Remas Ta’miriyah, Al Mufidah Ketintang dan Pakis Wetan. Berawal dari kegiatan Remaja Masjid Al Falah (Seksi Dakwah) berinisiatif menghimpun jama’ah untuk mengaji Al Qur’an (Kursus), berawal dengan santri antara 75-125 orang, dan tidak dipungut biaya sedikitpun, prinsipnya asal mau belajar membaca Al Qur’an pembimbingnya (sie Dak’wah) sangat senang. Akan tetapi  para santri justru pada akhirnya mereka banyak yang kurang bersemangat (mrothol) karena mereka tidak ada ikatan atau biaya dan juga kurang seriusnya pengelolaan, boleh dikatakan asal ada kegiatan dan sekedar alias “iseng” dari seksi dakwah.

Diperkirakan sejak tahu 1402 H/ 1981 M timbulllah gagasan kursus Al Quran dengan infaq dan pengelolaan serius, fokus, professional sebagai ikatan kepada mereka (santri) dan hasilnya semakin lama berkembang pesat dari yang tadinya 125 santri menjadi 500 bahkan berkembang sampai 1500 santri. Opini dan asumsi yang umum berkembang di masyarakat Surabaya, “jika kursus bayar, maka pengelolaannya tentu serius bahkan proffesional”, inilah yang mengilhami banyaknya peminat untuk belajar membaca Al Quran.

Materi-materi pada awalnya meliputi :
Kelas/Grup I     : Baca Dasar (Al Barqi)
Kelas/Grup II    : Tajwid Intensif
Kelas/Grup III   : Praktek Tajwid dan Tadarus
Kelas/Grup IV   : Qiro’ah / Tilawah
Kelas/Grup V    : Tafsir Al Quran